Pagi itu, sekali lagi seorang pelajar yang bisa dibilang kurang menghargai waktu dengan tergesa-gesa memakan sepotong roti dan meneguk segelas susu hangat sebagai sarapan di pagi hari yang dingin, dimana matahari kali ini pelit untuk menyinari bumi ini dengan ultravioletnya untuk menghapus bekas hujan yang membekukan aliran darah semalam. Ditambah lagi dengan awan tebal yang tidak ingin menyingkir dari jangkauan sisa-sisa cahaya sang surya yang tampak lebih rela melihat mahluk di seluruh bumi menggigil kedinginan dari pada memberikan cahayanya untuk sekedar menghanggatkan sekitarnya. Namun, hidup dan nasib yang bisa tampak berantakan, misterius, fanatis, dan sporadis dapat secara fundamental mengempur mental dan fisik dengan berbagai pengalaman yang melesat-lesat layaknya cahaya di dalam gerbong di atas rel kereta api tetapi, tetap saja elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti telah siap menerima bahwa segala hal sekecil apa pun yang terjadi dalam hidup bukanlah suatu yang sering disebut kebanyakan orang sebagai kebetulan semata. Dan hal itu tidak lama lagi akan benar-benar terjadi dalam ketidak menentuan dalam hidupku yang terkesan sedikit urakan itu.
“Bu! Danu berangkat dulu,ya!” Ucapku sambil berusaha menelan potongan roti yang masih setengah utuh di mulutku. “Habiskan dulu susunya! Sudah susah-susah Ibu buatkan, juga.” Cibir Ibuku.
Aku langsung meneguk sisa susu yang tadi telah kuminum sambil menyalami tangan Ibuku lalu pergi sambil melontarkan sindiran, “Wih! Ibu bikin susu sendiri, menakjubkan! Emang siMamah kemana?!” Tekanan pada kata Mamah yang kuucapkan ternyata langsung di sadari Ibuku sebagai sindiran terhadap asisten rumah tangga kami dan segera ia menyahuti, “Hus, orang tua! jangan gitu!”.
Aku memang sedikit ganjil dengan hal ini dan membuatku sering tertawa sendiri memikirkan bahwa anak asisten rumah tanggaku memanggil Ibunya dengan sebutan mamah sedangkan aku anak majikannya memanggil orang tua perempuanku dengan sebutan Ibu saja. Menggelikan memang betapa tidak, sebutan itu biasanya digunakan oleh orang kalangan atas atau setidak-tidaknya yang mencukupi kehidupannya. Tapi memang di daerah rantauan Ayahku memang begitu adanya. Orang kalangan manapun asal asli Cianjur—atau Jawa Barat mungkin—pasti menyebut kedua orang tua mereka dengan sebutan mamah dan papah, biarpun itu merapatkan kesenjangan antara si miskin dan si kaya tapi tetap saja mengelikan, menurutku tentunya. Yah, sudahlah buat apa aku memikirkannya, toh hal itu juga tidak terlalu penting.
Uhh, dinginnya udara luar ini membuatku sedikit menggigil tapi semangat belajar serta jam telah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit yang berarti aku telah terlambat, membuatku dapat bertahan untuk perjalanan menuju sekolah ku yang harus ku tempuh kira-kira sepuluh menit dengan berlari. Ada alasan khusus yang menyebabkan aku berlari untuk menuju sekolah padahal di rumahku pun kendaraan tidak kurang dan kendaraan umum juga banyak berlalu lalang di jalan menuju sekolahku. Ini memang bukan soal menghemat biaya untuk membantu ekonomi keluargaku tapi hanya sebatas karena aku sangat menyukai berlari karena lari adalah penenang hatiku yang kedua setelah sholat tentunya. Angin yang menerpa wajahku, langit biru yang meneduhkan mataku, dan hijaunya tumbuhan yang menyegarkan nafasku dengan oksigen yang dikeluarkannya adalah salah satu hal membuatku ketagihan berlari. Selain itu, alasan lainnya aku berlari menuju sekolah adalah karena adanya seorang perempuan yang sering ku jumpai dalam perjalananku menuju sekolah. Kali ini pun lagi-lagi aku berharap untuk melihat wajah manis, kulit putih, serta rambut pirangnya yang indah. Walau begitu, aku tidak tahu mengapa sama sekali tidak tersirat dalam benakku keberanian untuk mengajaknya berkenalan atau pun mengenalkan diriku padanya. Sesuatu yang akan ku sesali setidaknya sampai dua tahun mendatang.
Tapi, aku agak linglung sedikit dibuatnya karena ia tak nampak dari ketika aku melewati sekolahnya yang memang searah dengan sekolahku sampai aku tiba di sekolah. Untungnya angin, langit, serta tanaman di florist dekat sekolahku sedikit mengalihkan pikiranku dengan harumnya bunga-bunga yang dipajang didepan toko untuk mendapatkan cahaya matahari pagi sekaligus memamerkan koleksi pemilik toko yang lumayan terkenal itu. Tak kusangka, gerbang telah di tutup oleh penjaga sekolah karena memang hari ini adalah hari senin.
“Sial! Baru hari pertama masuk sekolah, udah telat!!!”
Banyak juga teman-temanku yang juga telat pada hari itu. Dan teman dekatku—karena sama-sama jomblo—juga terlambat rupanya.
“Hai,Di! Telat juga kau!?!”
Dia hanya mengangguk tanpa memalingkan mukanya. Tapi hormon testosteronku yang baru saja tumbuh, menuntunku untuk segera menyadari bahwa banyak siswi-siswi yang semlohai di sekolahku juga terlambat rupanya.
Tanpa buang waktu lagi, aku langsung mempraktikkan gaya yang telah kusiapkan selama ini. Aku berpura-pura membetulkan tali sepatuku yang sebenarnya tidak apa-apa, lalu berdiri sambil mengibaskan rambutku yang cukup panjang. Elegan, sungguh elegan sekali.
Tak dinyana, tak seorang pun dari putri-putri muda harapan bangsa itu yang memperhatikan aksiku. Sekali tiga uang denganku, Fidi hanya dilirik sebentar oleh sebagian siswi-siswi nan indah itu kemudian berpaling lagi.
“Ahh!! Gagal lagi, deh!”Ucap kami hampir berbarengan.
“Kalian semua akan dipulangkan!!”
Saat itu perhatian kami beralih pada wakil kepala sekolah yang memberi pengumuman tak menyenangkan pada murid-murid yang terlambat hari itu. Seluruh murid yang terlambat termasuk Ola, siswi manis yang sampai mati dicinta oleh Fidi meneriakkan protes. Kesempatan emas ini tak dibiarkan terlewat begitu saja olehnya, dia berdiri di dekat Ola dan mencoba mencari perhatiannya dengan meneriakkan apa yang diteriakkan Ola bersama murid-murid lainya dengan suara sember yang yang dibuat-buat agar terdengar indah tapi malah menjijikkan dan super keras sampai-sampai aku pun terganggu. Tapi sekali lagi, Ola hanya berpaling sejenak lalu sibuk berteriak kembali. Ahh, gadis itu memang indifferent.
Aku yang sudah tak peduli dengan gadis-gadis manis di sekitarku menyeruak maju menuju sang guru yang kebetulan masih muda itu.
“Pak! Coba Bapak pikirkan berapa banyak pelajaran yang kami tinggalkan hari ini jika kami di pulangkan. Bapak tidak sadar bahwa kami sebagai penerus bangsa membutuhkan ilmu, ilmu yang mau tidak mau harus kami dapatkan. Dan, membuat hidup kami penuh estetika dan mungkin, menjadi pemimpin yang beretika.”
“Teruskan, Danu!!!”
Sekarang semua mahluk indah itu memerhatikanku, bahkan mendukungku. Hatiku sumringah, adrenalinku terpacu setelah mendapat supor, aku pun semakin bernafsu untuk mengeluarkan kemampuanku sebagai orator.
“Bisakah Bapak gantikan waktu menuntut ilmu kami yang terbuang!?! Sadarkah bapak bahwa kami yang menentukan masa depan bangsa ini. Buruknya mental kami dapat memperburuk bangsa yang telah bobrok, sakit, dan mental para pemimpinnya hanya mental tikus. Mengerogoti apa yang ada untuk kesenangan mereka sendiri.”
Aku benar-benar tak menyangka orasiku mendapat aplaus dari para siswa yang ada dan termasuk sang tokoh antagonis di sekolahku itu. Saat itu juga aku dapat memetik pelajaran moral pertama tentang wanita: bila kau ingin menarik perhatian kaum hawa, kau harus pintar memainkan kata-kata.
“Great! Great, young man! Hebat. Karena kau termasuk siswa berprestasi dan ucapanmu tadi menarik simpatiku. Kali ini, kalian semua aku ijinkan masuk!!”
“Yihaaaaaaa! yess! Horee!”
Sorak sorai siswa-siswi yang telat, membuatku bangga. Banyak pujian dan terima kasih terasa manis di telingaku. Ahh, benar memang kata orang power is sweet, pantas Adolf Hitler tergila-gila akan kekuasaan, Mussolini menginginkan daratan itali ada dalam genggaman tangannya, kaisar hirohito melakukan agresi militer ke seluruh dunia, dan banyaknya partai yang berminat tuk menjadikan kandidatnya sebagai pemimpin di negara rapuh dan mulai busuk ini membuat selembar kertas yang tidak kurang besar dan lebar dari surat kabar untuk bahan rakyat memilih.
Dalam kesempatan itu, dari balik kerumunan monyet sirkus yang berlarian tanpa tau terima kasih terlihat senyum yang sangat manis. Manis, manis sekali seperti madu di musim semi. Merona bersinar wajahnya, putih kulitnya dan dua bola mata bak permata. Ahh, aku hampir semaput di buatnya. Aura, ya Aura hanya itu yang ku tahu dari bidadari yang menyambut pagiku dengan senyum nan indah miliknya itu.
Aku ingat saat itu, Ubet arjuna sekolahku—yang juga teman dekatku—mengajakku pergi ke tongkrongan-nya bersama Fidi. Memang diantara kami Ubet adalah yang paling laku dikalangan gadis-gadis. Di sana, aku pertama melihat Haura. Dia sangat hangat pada orang yang baru dikenal, aku gugup bukan main karena baru saat itu aku merasa jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebelumnya susah untukku menaruh cinta kepada seseorang. Secantik atau seseksi apapun perempuan itu, tetap susah bagiku tuk maenaruh cinta, walau sebagai lelaki aku tak menampik bahwa aku suka. Selama ini aku hanya bisa respect pada seorang yang saat itu juara kelas, banyak mendapat pujian, di sukai guru, atau paling hebat dalam suatu hal dan telah kukenal sebelumnya. Berbeda dengan kali ini aku menaruh hati pada seseorang yang baru saja kulihat. Mungkin, karena bola mata bak permata, dan senyum indah menawan yang ramah khas-nya. Aku yang tak biasa membicarakan hal remeh temeh tapi, dihadapannya entah kenapa aku bisa membual sejadi-jadinya. Itu pun seandainya aku berani menyapanya. Tapi, kami hanya saling menatap dan ia tersenyum padaku. Barulah saat itu, Ubet yang melihat ada sesuatu denganku memberi tahu nama si-manis yang membuatku merasa seperti berada dalam cerita-cerita cinta yang klise itu.
Dara indah yang banyak digandrungi laki-laki disekolahku, luar sekolah, bahkan sampai anak kuliahan, ini memang telah membuatku berada satu tingkat di bawah obsesif kompulsif. Seperti, Ikal pada A Ling, Arai pada Zakiah Nurmala, bahkan hampir seperti jimbron pada kuda(dalam sang pemimpi, karya idolaku andrea hirata).
Semalaman aku tak bisa tidur. Terbayang akan dua buah mutiara yang mengisi kelopak matanya. Aku benar-benar terbuai wajah cantiknya, dan lena akan senyum manisnya. Hampir gila aku dibuatnya. Gelisah, berputar-putar di kasur simpel di sudut ruang sempit kamarku. Aku membolak-balik bantal dan memeluk erat guling, berusaha menghilangkan bayangan indah wajahnya yang muncul setiap mataku terpejam. Putus asa, aku memainkan gitar yang terserak di sudut kamarku. Aku tersentak melihat gitarku yang rupanya menjadi sarang sekumpulan debu yang mengelompokkan diri masing-masing hampir di seluruh badan gitar yang telah lama tak ku pergunakan itu. Gitar yang menjadi hadiah untuk membujukku pindah ke Cianjur dan telah berumur hampir tiga tahun itu langsung ku ambil dan kubersihkan. Sembari menempatkan diri di posisi sempurna setelah membersihkannya, dan tanpa menghidupkan sound dan effect, lantunan musik bernuansa jazzy—yang aku sendiri tak tau itu lagu apa—menggema, dan resonansi gelombang suaranya terpantul diantara dinding-dinding beku yang dingin di kamarku. Terdengar bersahutan dengan gitar yang aku mainkan. Menenangkan, aku terhanyut alunan musikku sendiri. Walaupun tanpa lirik, lagu itu tetap terdengar merdu dan begitu syahdu di telinga. Sedikit kelelahan, aku akhirnya dapat memejamkan mata tanpa bayang-bayang yang membuatku gelisah itu datang lagi setelah lantunan lagu merdu yang ku bawakan untuk ku nikmati sendiri itu selesai.
Esok paginya, seperti biasa alarm membangunkanku pukul lima kurang lima belas tapi anehnya kali ini aku mematikan alarm yang berasal dari hapeku itu kemudian langsung tidur kembali. Tepat, jam setengah enam sambil marah-marah ibuku membangunkanku belum lagi nilai try out intern di bimbelku yang mengecewakan. Sialnya, bukan hanya ibuku, aku juga kena damprat ayahku karena meninggalkan sholat subuh yang teramat penting itu. Pengajaran Islam yang diterapkan kepada masyarakat yang masih mempunyai unsur etnik kejawen memang umumnya lebih ketat dari konsep islam biasa. Karena memang cara seperti itu dapat membunuh atau paling tidak mendominasi etnik yang sarat akan unsur-unsur kleniknya itu. Dan, ayahku adalah salah satu yang menerima pengajaran itu pada masa kanak-kanaknya dan sampai sekarang tetap menganut ajaran lama itu. Atau, mungkin lebih tepat kalau dibilang beliau ingin menerapkan hal yang sama padaku dan adikku sebagai efek samping masa kecilnya yang penuh dengan aturan dan sedikit otoriter.
Akhirnya. pagiku dipenuhi dengan omelan, bahkan sampai adikku yang gembrot pun ikut ngoceh tak keruan dan membuatku meracau sendiri. Karena pikiranku terlampau panas aku pun sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya dan berusaha berlari sekencang-kencangnya untuk menenangkan hatiku. Walau sebenarnya aku tak sama sekali berniat belajar. Lalu, sesampainya di kelasku—dan memang aku sudah yakin belum ada siapa-siapa—aku segera menaruh tas punggungku dan pergi ke rumah Edo, temanku yang rumahnya kebetulan berada dekat sekolah kami. Tapi, langkahku yang mantap terhenti sejenak di dekat tempat fotokopi yang berada tepat di sebelah sekolahku karena kembali ku lihat senyum yang semalaman kurindukan itu. Berjalan tergesa tapi tetap tak kehilangan kemenawanan senyumya, dara cantik itu menyapaku. Walau hanya sekadar “Hai!” aku tak dapat berpaling darinya sampai punggungnya menghilang dari tatapan mataku. Saat itu semua keluh kesa, kesal, amarah, dan segala bentuk keburukan pikiran serasa menguap menju langit biru berhiaskan awan putih indah. Aku serasa terlahir kembali. Hasratku untuk belajar mulai terbentuk lagi bahkan seandainya aku di tabrak oleh motor mio biru dengan kecepatan tinggi tepat saat ku melintas di jalan depan rumahku dan membuat kakiku hampir retak, salah urat berat, harus di perban dan di gips aku mampu untuk bermain sepak bola. Atau, mungkin jika aku adalah seseorang yang diasingkan oleh seluruh masyarakat, tetangga, teman, saudara bahkan orang tua karena penyakit burut yang meniup skrotumnya sehingga sebesar balon dan membuat jalannya tertatih-tatih serta ingin menyelami samudera pasifik hanya dengan tabung udara dadanya saja dapat kembali menghadapi kehidupan dengan semangat yang membara dan tak kenal lelah.
Bayangkan teman, satu kata “Hai!” dapat membuat seseorang bangkit dari keterpurukkan dan menjadi sedikit sinting. Itulah kehebatan aura dari satu kata yang enak terdengarnya itu. Yah, sesuai dengan namanya, “Aura” membawa aura kehidupan yang membuatku dapat kembali semangat belajar dan memperbaiki turun drastisnya nilai-nilaiku.
Kamis, 09 Juli 2009
Langganan:
Komentar (Atom)
